Jumat, 23 Oktober 2015

Tugas Softskill Minggu ke 4

  Bagaimana Mempengaruhi Orang Lain
  1.  Setiap orang lebih menyukai pujian daripada cercaan
      Ini mudah dipahami. Tak ada orang yang senang dicela atau dicerca. Apalagi jika cercaan itu dilakukan di hadapan orang banyak. Orang akan tersinggung dan sakit hati jika dicerca.
      Sebaliknya, orang senang dipuji. Mereka akan menghargai orang yang memuji mereka. Apalagi jika mereka tahu bahwa pujian yang dilakukan itu dilakukan dengan tulus. Tanpa ada ‘udang dibalik batu’. Tanpa ada maksud apapun, kecuali hanya ingin memuji.
      Pujian membuat orang merasa dekat dan akrab dengan orang yang memujinya. Juga membuat orang membuka diri, sehingga mereka siap untuk menerima masukan dari orang yang memujinya. Pujian merupakan ‘pintu gerbang’ yang efektif sebelum Anda mempengaruhi orang lain. Pujian ‘membungkus dengan rapi’ pengaruh yang akan Anda berikan kepada orang lain, sehingga orang tak merasa dipengaruhi secara paksa. Orang tak mau dipaksa untuk dipengaruhi. Itulah sebabnya, iklan-iklan penuh dengan kata-kata pujian kepada calon konsumen. Hal ini agar orang tertarik memberi produk yang diiklankan tanpa merasa dipengaruhi secara paksa.
  1. Setiap orang lebih senang dengan mereka yang empati
      Setiap orang ingin dipahami perasaanny. Tak ada orang yang ingin diacuhkan perasaannya. Perasaan dianggap oleh setiap orang sebagai bagian dari harga dirinya yang paling penting. Orang mungkin tidak akan tersinggung jika pikiran atau fisiknya diganggu, tapi jika perasaannya diganggu, ia akan tersinggung.
      Ironisnya, perasaan merupakan bagian dari dimensi manusia yang paling peka dan labil. Perasaan mudah tersinggung, walau mungkin tak diperlihatkan secara kasat mata oleh orang yang mengalaminya.
      Jika Anda bersikap empati berarti Anda memahami perasaan orang lain. Anda menghormati orang lain. Anda seakan-akan berkata kepada orang lain, “Saya menghargai perasaan Anda. Saya tak akan menyinggung perasaan Anda. Perasaan saya sama dengan Anda”. Hal ini akan membuat orang senang dan simpati kepada Anda. Sebab Anda menghormati bagian dari harga dirinya yang paling penting dan paling dijunjung tinggi olehnya, yaitu perasaan.
      Sikap empati akan membuat orang merasa ‘satu nasib’ dengan Anda. Kesamaan ini membuat ia lebih terbuka untuk dipengaruhi oleh Anda. Sebab ia merasa mendapat masukan dari orang yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Perasaan memiliki banyak kesamaan membuat Anda lebih mudah mempengaruhi orang lain daripada jika orang lain merasa memiliki banyak perbedaan dengan Anda.
  1. Setiap orang lebih senang dengan mereka yang antusias
      Antusias berarti jiwa yang hidup. Jiwa yang selalu bersemangat dan yakin dengan tindakannya. Orang akan lebih mudah dipengaruhi oleh mereka yang antusias daripada mereka yang tidak antusias. Karena itulah, para pemimpin yang sukses biasanya adalah orang-orang yang antusias. Mereka tak ragu dengan keputusannya dan yakin dengan tindakannya, sehingga orang lain terpengaruh dan mengikutinya dengan sukarela. Anda tentu tak akan mau mengikuti seseorang yang ia sendiri ragu terhadap apa yang diperbuatnya, bukan? Anda akan lebih suka mengikuti mereka yang antusias. Mereka yang yakin dengan keputusannya dan bersemangat untuk mewujudkannya.
      Untuk mempengaruhi orang lain, Anda perlu terlihat sebagai orang yang antusias. Orang yang yakin dengan pendapatnya dan tak ragu dengan ucapannya. Orang yang mantap dan percaya diri dengan perbuatannya. Tidak terlihat bingung atau cemas ketika berkata atau berbuat. Di wajahnya terpancar optimisme menghadapi masa depan. Ia yakin bahwa hidup berpihak kepadanya.
  1. Setiap orang lebih suka dengan mereka yang dapat menjadi teladan
      Keteladanan membutuhkan kedisiplinan. Disiplin untuk selalu berkata sesuai apa yang diperbuat. Orang akan terpesona dengan mereka yang dapat memberikan keteladanan. Yaitu, orang yang memberikan contoh terlebih dahulu dan berkata sesuai dengan apa yang diperbuatnya.
      Sebaliknya, orang akan merasa tidak simpati dengan mereka yang ‘lain kata lain perbuatan’. Apalagi jika perkataan tersebut berupa janji yang tidak ditepati. Orang tidak akan senang dengan mereka yang suka mengumbar kata-kata manis tanpa bukti bahwa ia sendiri merupakan contoh dari apa yang dikatakannya. Kata-kata manis mungkin dapat merebut hati orang. Tapi hal itu hanya berlaku sekejap. Setelah itu, orang akan kecewa dan tidak percaya lagi dengan perkataannya.
      Hanya keteladanan yang dapat merebut hati orang. Keteladanan menimbulkan kepercayaan. Membuat orang terpengaruh dalam jangka panjang. Pepatah mengatakan, “Keteladanan memberikan ketaatan, kemunafikan memberikan perlawanan”.
  1. Setiap orang menghitung imbalan (manfaat) dari apa yang dilakukannya
      Diakui atau tidak, setiap orang mengharapkan imbalan dari apa yang dikerjakannya. Ketika Anda bekerja, Anda mengharapkan imbalan berupa gaji. Ketika Anda membentuk rumah tangga, Anda mengharapkan manfaat berupa keluarga yang membahagiakan Anda. Bahkan ketika Anda beribadah kepada Tuhan, Anda mengharapkan imbalan berupa pahala (ridho Tuhan) atau ketenangan batin.
      Anda dapat mempengaruhi orang lain jika Anda dapat menunjukan kepadanya apa manfaat atau imbalan yang akan diperolehnya jika ia menuruti Anda. Tidak peduli apakah Anda atau bukan Anda yang memberikan imbalan tersebut. Semakin besar dan konkrit imbalan atau manfaat yag dapat Anda tunjukkan pada orang lain semakin mudah Anda mempengaruhinya. Sebaliknya, semakin Anda tak mampu memberikan imbalan atau menunjukkan manfaat yang besar dan konkrit kepada orang lain, maka semakin sulit Anda mempengaruhinya. Besarnya pengaruh Anda sejalan dengan besarnya kemampuan Anda memberikan imbalan atau menunjukkan manfaat kepada orang yang Anda ingin pengaruhi.
  1. Setiap orang tidak suka merasa dipengaruhi (jangan menggurui)
      Walau setiap orang tak lepas dari pengaruh orang lain, namun mereka tak mau terlihat dipengaruhi secara paksa. Mereka hanya ingin dipengaruhi secara halus, sampai mereka sendiri tak sadar telah dipengaruhi!
      Karena itu, jangan menggurui orang lain ketika Anda ingin mempengaruhi orang lain. Hal itu akan membuatb mereka merasa dipengaruhi secara paksa. Orang tak mau dipaksa. Sebab paksaan membuat orang merasa diganggu harga dirinya. Sebaliknya, orang merasa senang jika dibujuk dan dirayu (walau mereka tidak mengakuinya!). sebab bujukan dan rayuan membuat orang merasa dihargai dan dianggap penting.
      Lagipula, menggurui orang lain membuat orang merasa harus berubah secara drastis. Hal itu tentu tidak menyenangkan baginya. Ia merasa harus merubah kebiasaan lamanya yang nyaman kepada hal-hal baru yang belum tentu nyaman baginya. Sedang, bujukan dan rayuan membuat orang merasa berubah secara nyaman. Bujukan dan rayuan memberi ‘ruang’ baginya untuk mencerna dan menumbuhkan kesadaran sendiri untuk berubah. Orang akan lebih senang berubah jika ia merasa perubahan itu akibat kesadaran dirinya sendiri, bukan karena dipengaruhi orang lain. Orang tak mau merasa dipengaruhi orang lain, karena hal itu dianggap sebagai gangguan terhadap kehormatan harga dirinya.
      Prinsip-prinsip mempengaruhi orang lain yang mudah dan sederhana tersebut sebenarnya berasal dari satu paradigma yang sama, yakni ORANG PADA DASARNYA MERASA DIRINYA PENTING, BAHKAN MERASA DIRINYA LEBIH PENTING DARI ANDA SENDIRI!

      Pengertian wewenang.
   - Pengertian Wewenang
           Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu.Penggunaan wewenang secara bijaksana merupakan faktor kritis bagi efektevitas organisasi. peranan pokok wewenang dalam fungsi pengorganisasian, wewenang dan kekuasaan sebagai metoda formal, dimana manajer menggunakannya untuk mencapai tujuan individu maupun organisasi.Wewenang formal tersebut harus di dukung juga dengan dasar-dasar kekuasaan dan pengaruh informal. Manajer perlu menggunakan lebih dari wewenang resminya untuk mendapatkan kerjasama dengan bawahan mereka, selain juga tergantung pada kemampuan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan mereka.

       
 Wewenang Lini, staff dan fungsional

v  Wewenang lini (Lini Authority), adalah wewenang dimana atasan langsung memberi wewenang kepada bawahannya, wujudnya dalam wewenang perintah dan tercermin sebagai rantai perintah yang diturunkan ke bawahan melalui tingkatan organisasi.
v  Wewenang Staf (Staff authority), adalah hak para staf atau spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi atau konsultasi kepada personalia lini.
v  Wewenang staf fungsional (Functional Staff Authority), adalah hubungan terkuat yang dapat dimiliki staf dengan satuan-satuan lini. Bila spesialis staf diberi wewenang fungsional oleh manajemen puncak maka dia mempunyai hak untuk memerintah satuan lini sesuai dengan kegiatannya.

Delegasi wewenang

Untuk mancapai tujuan organisasi yang efektif dan efisien, maka perlu adanya pendelegasian tugas dari atasan ke bawahan. Pendelegasian tugas ini juga harus dibarengi dengan pendelegasian wewenang, sebab pendelegasian tugas tanpa pendelegasian wewenang sama halnya orang mau pergi tapi tak punya uang. Delegasi dapat diartikan sebagai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal dari atasan kepada orang lain untuk melaksanakan tugas tertentu. Sedang delegasi wewenang diartikan sebagai proses pengalihan wewenang dari atasan kepada orang yang ditunjuk. Hal yang perlu diperintahkan dalam mendelegasikan suatu kegiatan kepada orang yang ditunjuk yaitu:
1. Menetapkan dan memberikan tujuan serta kegiatan yang akan dilakukan
2. Melimpahkan sebagian wewenangnya kepada orang yang di tunjuk
3. Orang yang ditunjuk mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan agar tercapainya tujuan.
4. Menerima hasil pertanggung jawaban bawahan atas kegiatan yang dilimpahkan.

Alasan-alasan pendelegasian
Beberapa alasan yang mendasari manager mau mendelegasikan tugasnya lepada orang lain, yaitu:
1. Tugas manager bukan hanya pada satu kegiatan saja, oleh karena itu tugas yang dianggap orang lain bisa melakukannya, dilimpahkan kepada orang yang ditunjuk. hal ini agar tercapai efektivitas dan efisiensi kerja.
2. Manager lebih memperhatikan pada tugas-tugas yang perlu penanganan lebih serius dan penting demi kelangsungan organisasi.
3. Manager tidak harus mempelajari semua permasalahan dan pengetahuan karena adanya keterbatasan-keterbatasan.
4. Mendorong dan mengembangkan bawahan yang menerima pelimpahan wewenang.
    
   
DAFTAR PUSTAKA

   Stoner, James [and] A.F. Freeman, 1996. Manajemen. Jakarta: Prenhallindo.

   Siagian, Sondang P, 1979. Peranan staf dalam management. Jakarta: Gunung Agung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar