Rabu, 27 Mei 2015

Tugas Kesehatan Mental 2

Hubungan Kesehatan Mental Dengan Religiusitas

Hubungan antara agama dan psikologi merupakan hal yang telah lama diperdebatkan. Pada awal berdirinya psikologi sebagai ilmu otonom, agama dipandang negatif oleh beberapa tokoh-tokoh psikologi yang terkenal. Salah satu tokoh tersebut adalah Sigmund Freud (1933) yang menyatakan bahwa religion is an illusion and it derives its strength from the fact that it falls in with our instinctual desires”. Ia juga menyatakan bahwa “religion is comparable to a childhood neurosis”. Sedangkan Alber Ellis (1994) Percaya akan probabilitas bahwa tuhan ada dalam bentuk yang sangat kecil sehingga tidak layak untuk mendapatkan perhatian darinya atau orang lain.
Meskipun mendapat pandangan negatif dari beberapa tokoh psikologi, penelitian tentang korelasi antara agama dan kesehatan mental penganutnya terus berkembang, bahkan mampu membentuk sub disiplin ilmu yaitu psikologi agama. Dihasilkannya buku The Psychological of Religion: An Empirical Study of The Growth of Religious Counsciousness oleh Edwin Diller Starbuck pada tahun 1899 dinilai sebagai titik awal berkembangnya penelitian agama. Lalu, tokoh-tokoh psikologi lainnya seperti William James dan James H. Leuba pun ikut memperdalam penelitian dalam psikologi agama. Bahkan Ellis pun mengakui dan menyetujui bukti survey yang menyatakan bahwa dengan mempercayai tuhan yang penyayang dapat menyehatkan secara psikologis. Seiring dengan berkembangnya psikologi agama, semakin banyak penelitian yang menghasilkan bukti-bukti empiris yang mendukung adanya efek positif bagi kesehatan mental maupun fisik.
Karena pentingnya peran agama dalam kehidupan penganutnya, maka sangat penting bagi kita untuk mengkajinya secara lebih mendalam. Bahkan dalam agama itu sendiri, selalu ada sisi pengkajian tentang psikologi. Hal tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara agama dan  psikologi. Dengan mengkaji efek dari penerapan ajaran agama secara mental dan fisik, diharapkan kita dapat menjadi lebih memahami  makna dari agama yang kita anut dan kita menjadi lebih bijaksana dalam menjalankannya.
Psikologi agama merupakan salah satu sub disiplin ilmu dari psikologi. Menurut Zakiyah Darajat,
“Psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaaan hidup pada umumnya, selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.” (sebagaimana dikutip dalam Jalaludin, 2004, hal.15).
Psikologi agama secara khusus mengkaji tentang proses kejiwaan seseorang terhadap tingkah laku dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk itu dalam psikologi agama dikenal adanya istilah kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Menurut Zakiah Darajat kesadaran agama itu adalah bagian atau hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau disebut juga dengan aspek mental dan aktivitas agama. Sedangkan yang dimaksud pengalaman agama adalah unsur perasaan dan kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakannya.
Dalam dua dekade terakhir, penelitian tentang efek agama mengalami berkembangan pesat. Secara gamblang, banyak penelitian dalam bidang psikologi, psikiatri, medis, kesehatan masyarakat, sosiologi dan epidemiologi yang membuktikan efek positif dari keterlibatan agama dalam kesehatan fisik dan mental manusia. Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya aspek keagamaan dalam kehidupan manusia. Penelitian itu menggunakan beberapa unsur psikologis yang terkait dengan agama, yaitu: kepercayaan akan adanya Tuhan yang mempengaruhi kehidupan; tingkat kualitas dalam melakukan aktivitas agama (contoh: frekuensi berdoa, penghayatan dalam berdoa); dan tingkat komitmen dalam beragama.
Beberapa penelitian telah dilakukan di Amerika Serikat, Denmark, Finlandia, dan Taiwan yang bertujuan untuk melihat hubungan antara agama serta kesehatan mental dan fisik manusia. Dari penelitian tersebut, diperoleh hasil bahwa 25-30% individu yang aktif dalam menjalankan kegiatan agama memiliki usia lebih panjang dibandingkan dengan yang tidak. Tingkat keaktifan beragama diukur dengan berbagai cara, antara lain dengan mengukur tingkat kepercayaan pada agama, maupun frekuensi kunjungan dan keikutsertaan dalam kegiatan ibadah (salat, berdoa, dan atau membaca kitab suci). Selain itu, individu remaja atau dewas–dengan latar belakang berbagai agama—dengan tingkat religiusitas tinggi lebih tidak menyukai minum-minuman keras atau rokok dan hal-hal tidak baik lainnya, mereka pun lebih sering menaati peraturan dan makan dengan pola makan yang baik sehingga berimplikasi pada kondisi kesehatan mereka secara fisik. Diasumsikan bahwa individu dengan tingkat religiusitas tinggi memiliki sel-regulation tinggi sehingga ia mampu mengontrol diri untuk menjauhi hal-hal yang tidak baik tersebut yang memberi efek buruk bagi kesehatan mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Larson menunjukkan bahwa  agama dan spiritualitas mampu member efek positif pada kesehatan fisik. Beberapa efek yang telah diukur oleh Larson yaitu: 1) menurunnya tekanan darah sistol, tekanan darah diastole, kadar kolesterol, dan stress yang diakibatkan oleh pembedahan. 2) Menurunnya rasio penyakit jantung, sirosis, efisema, myocardial infarction, stroke, gagal ginjal, kematian akibat kanker, kematian dalam pembedahan jantung, dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit secara umum. 3) Meningkatnya gaya hidup sehat dan usia hidup. (see Larson et al., 1998; Levin & Vanderpool, 1992).
Selain berdampak positif pada kesehatan fisik, agama dan religiusitas juga berpengaruh pada kesehatan mental. Hasil penelitian selama dua decade terakhir menyimpulkan bahwa agama memiliki kaitan dengan kesejahteraan psikologis. Individu dengan konsep agama yang positif memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami depresi. Selain itu, individu juga akan merasa bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Penjelasan lain juga mengungkapkan bahwa dengan berdoa, keadaan psikologis dari seseorang akan menjadi lebih tenang, sehingga tubuh menjadi lebih rileks. Hal itu pun berakibat pada berkurangnya tingkat kecemasan dan selanjutnya juga member efek positif pada fisik, seperti lancarnya proses pernafasan dan pencernaan.
Tingkat religiusitas juga berpengaruh pada ketahanan individu untuk menghadapi kondisi yang mungkin member pengaruh buruk bagi mental, seperti diungkapkan oleh Braam et al. (2004) bahwareligion may offer a frame of reference toward questions of life, suffering and death, and may help to accept a decrease in physical functioning in light of religious and spiritual values” (p. 485). Secara umum, kesehatan mental dan fisik akan saling mempengaruhi, sehingga individu yang memiliki religiusitas tinggi akan memiliki kondisi mental dan fisik yang baik.
Namun perlu diketahui bahwa efek dari agama dan tingkat religiusitas sangat dipengaruhi oleh bagaimana individu menerapkan agama yang mereka anut. Jika individu menganut suatu agama secara sangat patuh tanpa memikirkan kondisi sosialnya, hal itu dapat bersifat psikopatologis. Hal yang sama juga berlaku jika individu menjalankan agama secara parsial maupun semaunya.
Karena agama memiliki efek yang sangat baik jika diterapkan secara bijak, sudah seharusnya kita menerapkan ajaran agama kita dengan sepenuh hati. Jika dilakukan dengan terpaksa, efek yang diakibatkannya pun akan berbeda. Selain itu, pengetahuan tentang agama harus terus dikaji lebih dalam agar tidak terjebak dalam kesalahan pada penerapan ajaran agama yang justru member efek negatif.


Daftar Pustaka

Arifin S. B. (2008). Psikologi agama, Bandung: Pustaka Setia.

 
Ariyanto, N. (2010). Psikologi, Agama, dan Kesehatan. Diambil pada 31 September 2011, dari http://ruangpsikologi.com/psikologi-agama-dan-kesehatan

Tugas Kesehatan Mental 2

Fenomena Stress pada Wanita 

  Stress merupakan realitas kehidupan mausia setiap hari. Manusia tidak dapat menghindarinya. Sebagai bagian dari pengalaman hidup, stress merupakan hal yang rumit, kompleks. Oleh karena itu stress dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Stress adalah setiap perubahan yang memerlukan penyesuaia. Biasanya jika berpikir tentang kejadian yang menimbulkan stress dianggap sebagai kejadian yang negatif, seperti cedera, sakit atau kematian orang yang dicintai. Stress dapat juga berasal dari kejadian yang positif misal, mempunyai rumah baru atau kenaikan jabatan yang dapat menimbulkan stress karena perubahan status dan tanggungjawab baru. Jatuh cinta pun dapat menimbulkan stress sama dengan ketika putus cinta.


          Dalam peristiwa stress sekurang-kurangnya ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu ; hal, peristiwa, orang, keadaan yang menjadi sumber stress (stressor) ; orang yang mengalami stress (the stressed) ; dan hubungan antara orang yang mengalami stress dengan hal yang menjadi penyebab stress (transaction) beserta segala yang tersangkut olehnya (Hardjana, 1994).


          Sarafino (1994) mendefinisikan stress sebagai suatu kondisi yang muncul ketika individu berhubungan dengan lingkungannya, individu merasakan ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan situasional dengan sumber daya psikologis, biologis, dan sosial yang dimilikinya.
          Selye (Miner,1992) membedakan dua bentuk stress yaitu distress maupun eustress. Distress adalah respon terhadap peristiwa-peristiwa negatif, sedangkan eustress adalah respon terhadap peristiwa-peristiwa yang bersifat positif. Baik distress maupun eustress dapat menimbulkan reaksi-reaksi stress berupa respon fisiologis maupun respon perilaku. Hawari (1997) menyatakan stress adalah tanggapan atau reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban yang bersifat non spesifik. Namun disamping itu stress dapat juga merupakan faktor pencetus, penyebab sekaligus akibat dari suatu gangguan penyakit. Manakala tuntutan pada diri seseorang itu melampaui kemampuannya, maka keadaan demikian disebut distress.

Akibat Stress Pada Wanita

1. Mengurangi Libido
Peristiwa besar dalam hidup yang menyebabkan stress, seperti memulai pekerjaan baru atau pindah ke kota baru, bisa menurunkan libido, menurut Dr. Irwin Goldstein, M.D. Hal ini bisa terjadi ketika peningkatan kadar kortisol menekan hormon seks alami tubuh.

 2. Haid Yang Tidak Teratur
Stress akut dan kronis secara fundamental dapat mengubah keseimbangan hormon tubuh, yang dapat menyebabkan haid yang tidak kunjung datang, terlambat atau tidak teratur. Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang merasa terbebani dengan pekerjaannya mempunyai resiko 50 persen lebih tinggi untuk siklus pendek (kurang dari 24 hari) daripada wanita yang tidak bekerja.

 3. Jerawat
Tingginya tingkat kortisol dalam tubuh dapat menyebabkan produksi minyak berlebih yang memberikan kontribusi untuk perkembangbiakkan jerawat. Sebuah studi pada tahun 2003 lalu menemukan bahwa mahasiswa perempuan mempunyai jerawat yang lebih banyak selama masa ujian karena peningkatan stress.

 4. Rambut Rontok
Stress secara emosional maupun psikologis secara signifikan dapat menyebabkan ketidakseimbangan fisiologis yang memberikan kontribusi untuk rambut rontok. Stress dapat mengganggu siklus perkembangan rambut, menyebabkan rambut mudah rontok. Meskipun Anda mungkin tidak menyadari ketika rambut Anda mengalami kerontokan selama atau setelah melewati masa stress, perubahan dapat terjadi tiga sampai enam bulan kemudian.

 5. Pencernaan Yang Buruk
Stress yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem pencernaan yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung, sehingga menyebabkan gangguan pencernaan dan ketidaknyamanan, dalam beberapa kasus memberikan kontribusi terhadap perkembangan IBS dan bisul. Menurut womenshealth.gov, mengurangi stress adalah kunci untuk menjaga sistem pencernaan yang sehat.

 6. Depresi
Perempuan dua kali lebih rentan mengalami depresi daripada laki-laki. Penelitian terbaru menunjukkan perbedaan antara respon terhadap stress dan reaktivitas antara kedua jenis kelamin untuk menjelaskan perbedaan ini. Peningkatan kadar kortisol dihasilkan dari stress kronis jangka panjang, stress akibat pekerjaan kelas rendah atau stress akut dari peristiwa sulit yang terjadi dalam hidup seperti kematian atau perceraian dapat bertindak sebagai pemicu depresi.

 7. Insomnia
Sebagian besar dari kita pernah merasakan kegelisahan pada malam  hari, memikirkan kejadian atau masalah yang terjadi di tempat kerja. Tidak mengherankan jika stress adalah penyebab umum dari insomnia, yang kemudian dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, mudah marah, dan kurangnya motivasi.

 8. Penambahan Berat Badan
Penelitian telah menghubungkan tingkat kortisol yang lebih tinggi pada pinggang hingga pinggul pada wanita (yaitu lebih berat di sekitar area perut), serta penurunan metabolisme. Tingkat stress yang tinggi juga berhubungan dengan peningkatan nafsu makan dan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
         
Penyebab Stress Pada Wanita

Dalam sebagian besar kasus, perempuan stress berlebih karena mereka melaksanakan peran ganda pada saat yang sama, seperti mengelola pekerjaan, keluarga, keuangan, dll Seperti disebutkan di atas, mengidentifikasi penyebab dan gejala stres dapat membantu dalam mencari jalan keluar . Setiap masalah yang berkaitan dengan kondisi berikut dapat menyebabkan stres pada wanita.
- masalah pekerjaan
- Masalah dalam hubungan
- Masalah keuangan
- Kesendirian
- Masalah kesehatan
- Kehamilan
- Kematian orang dekat
Gejala Stress Pada Wanita

Hal ini juga harus dicatat bahwa stres mengurangi kekebalan, yang dengan sendirinya dapat menyebabkan masalah lebih lanjut. Oleh karena itu, gangguan stres dan kesehatan membentuk lingkaran setan. Tidak semua gejala yang disebutkan di bawah ini terjadi pada semua wanita. Jumlah dan keparahan gejala bervariasi dari satu orang ke orang lainnya.

Gejala Fisik:
Ketegangan, sakit kepala dan menangis adalah gejala yang paling menonjol pada wanita. Frekuensi dan durasi sakit kepala bervariasi dari orang ke orang. Selain sakit kepala, gejala lainnya seperti sakit punggung atau kram perut. Gejala utama lainnya adalah insomnia, yaitu kurang tidur. Jika seorang wanita menderita stres berlebih, dia tidak bisa tidur dengan baik di malam hari. Hal ini bahkan dapat terjadi selama beberapa malam yang akibatnya menghasilkan sakit kepala parah dan lekas marah. Mungkin juga menderita siklus bulanan tidak teratur, tekanan darah tinggi, sakit maag, migrain, rambut rontok, penyakit kulit, dan lain-lain, karena stres.

Gejala stres lainnya pada wanita adalah diare, sesak di dada, kesulitan bernafas dan kehilangan minat seksual. Terkadang, gejala-gejala tersebut memiliki hasil yang lebih dalam pada kesehatan dan pikiran seorang wanita. Dia mungkin memiliki pikiran yang konstan tentang kematian, mengembangkan kecenderungan bunuh diri, mulai merokok atau meminum alkohol atau bahkan obat-obatan. Penyakit kulit, ruam, berat badan turun juga dapat menjadi reaksi yang disebabkan karena stres pada wanita.


Gejala Perilaku:
Pemarah merupakan salah satu tanda-tanda perilaku yang paling umum dari stress. Siksaan ini sering diikuti dengan gejala emosional dan perilaku lainnya seperti kemarahan, perubahan suasana hati dan menangis. Khawatir, kesulitan dalam konsentrasi, frustrasi, dll, juga dialami ketika seorang wanita berada di bawah tegangan konstan. Gejala-gejala ini dapat menyebabkan reaksi negatif seperti kecurigaan, sering marah, pelupa, rendah diri dan depresi. Kehilangan nafsu makan, atau makanan berlebih juga merupakan tanda-tanda stres.


Manajemen Stres untuk Wanita
Ketika wanita menyadari gejala-gejala stres, mereka dapat menemukan cara untuk mengatasinya. Dalam sebagian besar kasus, setelah menerapkan teknik self-help terbukti efektif dapat membantu dalam mengurangi stres. Berikut adalah beberapa teknik yang efektif untuk manajemen stres.
 
  • Dukungan dari keluarga dan teman-teman secara signifikan dapat membantu dalam manajemen stres. Alih-alih menjadi kesepian, jika Anda berbagi masalah dengan orang-orang dekat, Anda memiliki kemungkinan lebih rendah menderita gejala yang disebutkan di atas.
  • Anda harus ingat bahwa situasi stres muncul dalam kehidupan semua orang, dan, dalam rangka menghadapi mereka, harus memiliki sikap positif. Dalam sebagian besar kasus,  ketika dalam situasi stres, orang cenderung melihat setiap hal diluar proporsi.
  • Diet dan olahraga memainkan peran penting dalam mengelola stres. Meditasi dan yoga juga populer untuk manajemen stres, khususnya,latihan pernapasan sangat efektif dan dapat dilakukan di rumah, di mobil atau bahkan di tempat kerja. 
  • Perempuan harus mengambil istirahat dari rutinitas.Menyalurkan hobi secara teratur juga bagus untuk mengurangi stres besar. Kegiatan sederhana seperti menghabiskan waktu dengan keluarga, jalan bersama teman-teman atau pijat relaksasi dapat membantu dalam mengurangi stres dan ketegangan.
  • Mengikuti metode sederhana seperti diet seimbang, tidur malam yang baik, menghindari penundaan kerja, mengelola dan memanfaatkan waktu dengan baik, mendelegasikan pekerjaan
  • Memiliki komunikasi yang mudah dengan anggota keluarga, dll dalam jangka panjang dapat membantu untuk mengurangi stres.
  • Terakhir, jika Anda mengalami stres di luar kendali dan tidak dapat menyingkirkan efeknya, segeralah meminta bantuan profesional. Dengan cara ini, Anda dapat mencegah gangguan kesehatan yang parah yang disebabkan karena stres.

Ketika kita dapat mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala stress, kita dapat memilih pengobatan yang efektif untuk menghindari komplikasi kesehatan lebih lanjut, dan menjalani hidup sehat. Perlu dicatat bahwa setiap obat dimaksudkan untuk kegelisahan, depresi atau gangguan tidur harus dengan resep dokter.
Contoh Kasus

Pada saat ini wanita telah mengalami kemajuan dalam berbagai hal.Fenomena wanita bekerja bukan
 merupakan hal yang aneh lagi di masyarakat. Wanita jaman sekarang bisa melakukan pekerjaan yang 
 Perlu diketahui bahwa fenomena wanita berperan ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja diluar
rumah, dan juga sebagai pemimpin wanita sebenarnya sudah ada sejak dulu. Pada awal abad 19, di luar negri yang
sebelumnya berfungsi sebagai pekerja terampil pada usaha-usaha rumah tangga yang memproduksi sampai memasarkan mulai beralih. 
Dampak dari revolusi industri membuat wanita banyak berpaling untuk melakukan pekerjaan diluar rumah untuk menghidupi dan menambah
 penghasilan rumah tangga. 


Bekerja bagi setiap wanita adalah pilihan. Gerson (1985, dalam Nainggolan, dkk, 1996:78) menyatakan bahwa keputusan wanita untuk bekerja 
dipengaruhi oleh faktor yang sifatnya komulatif, interaktif dan terus berkembang dipengaruhi baik secara langsung atau tidak dari masyarakat, keluarga 
dan diri sendiri sehubungan dengan harapanharapan tertentu peran wanita yang sekaligus ibu. Keputusan untuk mengambil 2 peran berbeda yaitu
 di rumah tangga dan di tempat kerja tentu diikuti dengan tuntutan dari dalam diri sendiri dan masyarakat. Tuntutan dari diri sendiri dan sosial ini
 menyerukan hal yang sama yaitu keberhasilan dalam dua peranan tersebut. Idealnya memang setiap wanita bisa menjalani semua peran dengan baik dan sempurna
, namun ini bukanlah hal mudah. Banyak wanita berperan ganda mengakui secara operasional sulit untuk membagi waktu bagi urusan rumah tangga dan urusan kantor (Izzaty,1999).
 Dalam Hurlock (1992) bahwa wanita tidak menyukai kalau harus melaksanakan beban tugas ganda, satu tugas dalam dunia perkantoran dan satu lagi tugas rumah tangga. 
Wanita merasa bersalah
 karena menolak tugas rumah tangga, contohnya dari sekian banyak tugas rumah tangga hanya tugas merawat anak yang dapat dilakukan atau bahkan tugas ini dilakukan oleh baby sitter.
Akibatnya bagi wanita pekerja, maka kehidupan rumah tangga merasa tidak memuaskan

Analisa :
Wanita memiliki stresor yang lebih tinggi dalam kehidupan sehari hari. Selain sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus anak, 
membersihkan rumah saja sudah menjadi suatu stres tersendiri bagi mereka,apalagi untuk ditambah sebagai wanita kantoran yang mengurus
 pekerjaan kantor dan bisa pulang hingga larut malam yang membuat kelurga merasa tidak memuaskan karena pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tidak sempat dikerjakan. Hingga akhirnya memakai jasa baby sitter yang di satu sisi memang membantu 
namun memakai jasa tersebut hanya menambah pengeluaran yang cukup besar. 

 
Referensi :
Mitchell, T. R., & Larson, J. R. (1987). People in Organizations: An Introduction to Organizational    Behavior (3rd ed.). USA: McGraw-Hill, Inc.

Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma