- Sejarah
Sejarah kesehatan
mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena
masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat
diamati dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan
relatif mudah dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental
sering kali tidak terdeteksi. Sekalipun oleh anggota keluarganya
sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga
tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang
biasa, bukan sebagai gangguan.
Khusus
untuk masyarakat Indonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum
begitu mendapat perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda
membuat perhatian terhadap kesehatan mental kurang terpikirkan. Orang
masih fokus pada masalah kuratif, kurang memperhatikan hal-hal preventif
untuk menjaga mental supaya tetap sehat. Tingkat pendidikan yang
beragam dan terbatasnya pengetahuan mengenai perilaku manusia turut membawa
dampak kurangnya kepekaan masyarakat terhadap anggotanya yang mestinya
mendapatkan pertolongan di bidang kesehatan mental. Faktor budaya pun
seringkali membuat masyarakat memiliki pandangan yang beragam mengenai
penderita gangguan mental. Oleh sebab itu, berikut dipaparkan sejarah
mengenai perkembangan kesehatan mental, terutama di Amerika dan Eropa,
dan semoga paparan ini menjadi referensi berbagai pandangan mengenai
kesehatan mental yang saat ini ada di Indonesia.
Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau
fisik, seperti infeksi, artritis, penyakit pernapasan dan usus, serta
penyempitan pembuluh darah. Tetapi manusia purba benar-benar berusaha mengatasi
penyakit mental. Ia memandang dan merawatnya sama seperti halnya dengan
penyakit fisik lainya.
Tetapi sungguh menggembirakan karena pasien sakit
mental tetap diperlakukan secara manusiawi. Dalam perkembangan selanjutnya pada
waktu sejarah mulai tercatat walaupun ada beberapa pengecualian
peradaban-peradaban manusia di tandai dengan penganiayaan terhadap para pasien
sakit mental diperlakukan dengan kasar dan kejam serta mereka dipandang sebagai
penggangu masyarakat. Lagi pula dewasa ini orang kadang-kadang memperlakukan
para pasien sakit mental tanpa belas kasihan dibandingkan dengan
orang-orang zaman purba.
Ada spekulasi yang dapat diterima bahwa beberapa
gejala penyakit mental dewasa ini sangat mirip dengan yang dijumpai pada zaman
dahulu. Gejala-gejala penyakit mental zaman dahulu dan sekarang mungkin berhubungan
sama halnya kita sendiri juga berhubungan dengan paraa nenek moyang kita.
Penyebab-penyebab penyakit mental zaman dahulu dapat juga dianggap berhubungan
dengan penyakit mental zaman kita.
Para pendahulu psikiater dan psikolog kita muncul
pada zaman purba. Penyakit mental tentu saja merupakan bagian dari bidang
praktek mereka. Sering kali dukun-dukun ini merupakan para cendikiawan yang
lebih baik dari kelompok. Lagi pula hubungan natara agama dan penyakit mental
lebih erat dibandingkan dengan hubungan antara agama dan penyakit lain.
Zaman peradaban awal
Dalam semua peradaban awal yang kita kenal di
mesopotamia, mesir, yahudi, india, cina dan benua amerika, imam-imam, tukang
sihir merawat orang yang sakit mental. Diantara semua peradaban tersebut
sepanjang zaman kuno penyakit mental mulai menjadi hal yang umum. Bersama
dengan penderita-penderita lain, kekalutan-kekalutan mental menjadi kawan
separjalanan yang setia bagi manusia pada waktu ia bergerak menuju kehidupan
yang terorganisir. Ilmu kedokteran menjadi lebih terorganisasi waktu
peradaban-peradan menjadi lebih maju.
Di mesopotamia Penyakit mental dihubungkan dengan
setan-setan dan pengobatan atau perawatanya dilakukan dengan upacara-upacara
agama dan upacara-upacara magis supaya setan keluar dari tubuh si pasien.
Orang-orang mesir memiliki sekolah kedokteran di kuil imhotep. Di kuil tersebut
terdapat sebuah rumah sakit di sana dikembangkan terapi untuk pasien berupa
rekreasi dan pekerjaan serta di terapkan semacam psikoterapi yang serupa dengan
beberapa pendekatan yang sangat moder untuk mengobati penyaklit mental.
Di mesir juga dokter-dokter yang sekaligus imam,
kepercayaan akan setan dan suatu pendekatan untuk merawat penyakit mental yang
serupa dengan yang terdapat di mesir dan mesopotamia juga merupakan ciri khas
dari ilmu kedokteran yahudi, tetapi kepercayaan akan satu alLah sebagai sumber
segala kehidupan termsuk kesehatan dan penyakit mental merupakan perbedaan
pokok dengan ilmu kedokteran dari peradaban awal lainya.
Di persia setan-setan dipersalahkan karena
menyebabkan penyakit-penyakit mental dan segala penyakit. Mental yang baik atau
kekuatan psikis/jiwa selalu mencari kesucian, kebajikan dan kebaikan hati.
Metode-metode pengobatan cina dn hindu mirip dengan yang terdapat di persia.
Ada kepercayaan-kepercayaan yang serupa dengan kekuatan-kekuatan yang berperang
antara yang baik dengan yangburuk. Dalam pandangan orang cina gangguan mental
dilihat sebagai penyakit dan dianggap sebagai gangguan proses alam atau ketidakseimbangan
antara yin dan yang.
Karena gangguan mental dianggap sebaai tidak adanya
keseimbangan fisik maka orang yang mengalami gangguan mental tidak dianggap
sebagai yang memalukan. Demikian juga orang hindu memiliki kekuatan baik yngh
disebut VISHNU dan berperang melawan kekuatan jahat yang disebut SHIVA.
Di afrika masyarakat berpendapat bahwa gangguan fisik dan mental di sebabkan
oleh musuh-muh, roh jhat atau dalam beberapa kasus oleh nenek moyang yang
marah. Beberapamasyarakat tradisional afrika berpendapat bahwa penyakt
disebabkan oleh penyebab-penyebab natural (fisik).
Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap
penyakit mental), Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak
adalah penyebab penyakit mental), Plato (gangguan mental sebagian gangguan
moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa)
Zaman Renaissesus
Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh
keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien
sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.
Abad XVII – XX
Peralihan dari pendekatan demologis ke pendekatan ilmiah
terhadap penyakit mental tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Di prancis
misalnya hukuman mati bagi tukang sihir tidak dicabut sampai tahun 1862.
Kecendrungan umum pertama terhadap perawatan khusus bagi para pasien sakit
mental mungkin sekali muncul setelah pembaruan-pembaruan social, politik dan
ilmu pengetahuan yang menjadi cirri dari pertengahan abad ke 18.
Pada awal abad ke 18 perhatian dipusatkan pada
klasifikasi dan system suatu hal yang mungkin sama dengan analisis system.
Kemajuan-kemajuan dalam ilmu kedokteran fisik dengan identifikasi, penyelidikan
dan usaha untuki secara rasional mengobati banyak penyakit yang sampai saat itu
dilihat sebagai sesuatu yang misterius dan magis.
Phillipe pinel memulai karyanya pada pengobatan psikiatri
pada permulaan nabad ke 19 segera setelah revolusi. Ia tetap sebagai dokter
yang bertanggung jawab terhadap la bicetre rumah sakit mental di paris. Ia
memelopori perlakuan dan pemahaman manusiawi terhadap orang-orang yang
mengalami kekalutan mental.willian tuke mendirikan York Retreat pada waktu
pinel mengorganisasikan rumah sakit mental di prancis. Usaha kelompok kecil
dari tuke itu lambat laun mendapat dukungan dari John Conolly, Samuel Hitch dan
psikolog-psikolog medin lain yang hebat dari inggris.
Pada wahun 1841 vHitsch mulai nmenggunakan perawatan
wanita yang terlatih di bangsa-bangsa rumah sakit jiwa Gloucester dab
nebempatkan pengawasan-pengawasan untuk memimpin staf perawatan. Anton muller
yang bekerja disebuah rumah sakit mental menyarankan perawatan yang manusiawi
terhadap orang-orang gila dan menentang kekangan yang sangat tajam terhadap
para pasien sakit mental.
Di amerika latin urmah sakit yang paling awal mulai
muncukl pada pada tahun 1820an. Pada ytahun 1847 para pengunjuung ke meksiko
dan perlu melaporkan bahwa orang gila di pakai sebagai hoburan untuk masyarakat
umum yang membayar untuk pertunjukan itu. Keberhasilan dari eksperimen pinel
dan tuke dalam metode yang lebih berperikemanusiaan menimbulkan revolusi para
perawatan para pasien sakit mental di seluruh dunia beradab. Kemudian pada
pertengahan abad ke 19 di mana tukang sihir di bakar di amerika seperti di
eropa munculah revolusi pertama untuk menangani secara manusiawi dan
memperbaiki lembaga-lembaga penyakit mental yang dimulai oleh seorang guru wanita
dari Massachusetts, Dorothea Lynde Dix.
Tetapi gerakan ilmu kesehatan mental tersebut tidak lama
kemudian di prakarsai oleh Clifford Wittingham Beers. Selama 3 tahun ia di
rawat sakit negeri dan swasta di Connecticut Beers mengalamin perlakuan yang
tidak manusiawi dari pegawai-pegawai rumah serta tetap memakai baju tidur dan
terikat selama beberapa jam.
Pada tahun 1919 di bentuk international Committee for
Nental Hygiene dengan markasr besarnya di amerika serikat. Pada tahun 1930
ketika kongres international I din adakan di Washington DC., ada 53 bnegara
terbagi di dalam kongres tersebut. Pengakuan terhadap cita-cita preventif yang
di sponsori oleh nasional comunitee for Mental Hygiene datang pada tanggal 3
juli 1946 ketika kongres amerika serikat mengesahkan undang-undang kesehatan
mental nasional. Pengesahan Undang undang oleh kongres amerika serikat ini
jelas merupakan pengakuan teradap usaha-usaha Clifford Beers. Sebagai punbcak
dari gerakan besar yanbg dimulai di New Haven, Connecticut ini, maka dibentuk
federasi dunia kesehatan mental pada tahun 1948.
Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826)
menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem
penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di
rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para
pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap
sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara
mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk
melukai atau merusak dirinya.
1. Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural. ( Menurut Pender, 1982 )
2. Sehat / kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.( Menurut UU N0. 23/1992 tentang kesehatan)
3. Sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care Resouces : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual. (Menurut Paune, 1983)
Definisi diberikan kepada masing-masing budaya, namun kebanyakan melihat kebudayaan sebagai seperangkat pedoman yang memandu bagaimana mereka memandang dunia, merespon secara emosional, dan berperilaku di dalamnya atau pedoman untuk hidup. Pemahaman terhadap sesuatu adalah suatu hal yang cukup kuat mendapat pengaruh budaya, sudut pandang terhadap suatu permasalahan seringkali dipengaruhi oleh budaya yang melatar belakangi, baik dalam proses memahami masalah atau pun dalam menyelesaikan masalah. Banyak hal dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh budaya, kesehatan mental dan gerakan kesehatan mental juga dipengatuhi oleh budaya.
Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi :
•Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
•Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
•Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan
•Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.
Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Dengan kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Ada perbedaan konsep kesehatan mental budaya barat dan timur Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.
Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
•Model Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
•Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
•Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.
Semiun, yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius
- Konsep Sehat
1. Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural. ( Menurut Pender, 1982 )
2. Sehat / kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.( Menurut UU N0. 23/1992 tentang kesehatan)
3. Sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care Resouces : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual. (Menurut Paune, 1983)
- Perbedaan Konsep Barat dan Timur
Definisi diberikan kepada masing-masing budaya, namun kebanyakan melihat kebudayaan sebagai seperangkat pedoman yang memandu bagaimana mereka memandang dunia, merespon secara emosional, dan berperilaku di dalamnya atau pedoman untuk hidup. Pemahaman terhadap sesuatu adalah suatu hal yang cukup kuat mendapat pengaruh budaya, sudut pandang terhadap suatu permasalahan seringkali dipengaruhi oleh budaya yang melatar belakangi, baik dalam proses memahami masalah atau pun dalam menyelesaikan masalah. Banyak hal dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh budaya, kesehatan mental dan gerakan kesehatan mental juga dipengatuhi oleh budaya.
Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi :
•Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
•Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
•Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan
•Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.
Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Dengan kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Ada perbedaan konsep kesehatan mental budaya barat dan timur Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.
Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
•Model Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
•Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
•Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.
Burhanuddin,Yusak. Kesehatan
Mental,( Bandung: Pustaka Setia, 1998).
Whitbourne,Halgin.Psikologi Abnormal.Jakarta:Salemba Humanika.2010Semiun, yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius