Psikoterapi lahir pada pertengahan dan akhir abad
yang lalu, di lohat secara etimologis psikoterapi mempunyai arti, yaitu “psyche” yang artinya “mind” atau “jiwa dan therapy”, dari bahasa Yunani yang
berarti “merawat atau mengasuh”, sehingga psikoterapi mempunyai artian
perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang.
Pengertian
psikoterapi menurut para ahli
a. Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simtom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
a. Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simtom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
b.
Corsini (1989) mengungkapkan psikoterapi sebagai suatu
proses formal dan interaksi antara dua pihak yang memiliki tujuan untuk
memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress).
c. Ivey & Simek-Downing (1980)
Psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya
merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur
kepribadian.
Menurut pendapat beberapa para ahli diatas,
dapat disimpulkan pengertian psikoterapi adalah proses perawatan atau
penyembuhan penyakit kejiwaan melalui teknik dan metode psikologi, dimana
adanya interaksi antara dua orang yang disebut terapis dan pasien.
2.
Jelaskan beserta berikan contohnya tujuan dari
Psikoterapi !
Berikut ini akan diuraikan mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi, dari dua orang tokoh yakni Ivey, (1987) dan Corey, (1991) :
Berikut ini akan diuraikan mengenai tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan teknik psikoterapi, dari dua orang tokoh yakni Ivey, (1987) dan Corey, (1991) :
a. Tujuan psikoterapi
dengan pendekatan psikodinamik, menurut Ivey, (1987) membuat sesuatu yang tidak
sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan
terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru
dari konflik-konflik yang lama.
b.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis,
menurut Corey, (1991) membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang
disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang
sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman
intelektual.
c.
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat
pada pribadi, menurut Ivey, (1987) untuk memberikan jalan terhadap potensi yang
dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya
sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta
memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik.
d.
Tujuan psikoterapi
pada pendekatan terpusat pada pribadi, menurut Corey, (1991) untuk memberikan
suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia
bisa mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami
aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
e.
Tujuan psikoterapi
dengan pendekatan behavioristik, menurut Ivey,
(1987)
untuk menghilangkan kesalahan dalam
belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa
menyesuaikan.
f.
Sehubung dengan
terapi behavioristik ini, Ivey, (1987) menjelaskan mengenai tujuan pada terapi
kognitif-behavioristik, yakni: menghilangkan cara berfikir yang menyalahkan
diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap
diri sendiri dan orang lain.
g.
Corey, (1991)
merumuskan mengenai kognitif-behavioristik dan sekaligus rasional-emotif terapi
dengan: menghilangkan cara memandang dalam kehidupan pasien yang menyalahkan
diri sendiri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup secara rasional
dan toleran.
h.
Tujuan psikoterapi
dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Ivey, (1987)
agar
seseorang menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah
kehidupan seseorang.
i.
Corey, (1991) merumuskan
tujuan terapi Gestalt, membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat
dari pengalamannya. Untuk merangsang menerima tanggung jawab dari dorongan yang
ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap
dorongan-dorongan dari dunia luar.
Dapat disimpulkan
bahwa beberapa tujuan psikoterapi antara lain :
1.
Perawatan akut (intervensi
krisis dan stabilisasi)
2.
Rehabilitasi
(memperbaiki gangguan perilaku berat)
3.
Pemeliharaan
(pencegahan keadaan memburuk dijangka panjang)
4.
Restrukturisasi
(meningkatkan perubahan yang terus menerus kepada pasien)
3.
Jelaskan perbedaan Psikoterapi dengan
Konseling !
Apabila kita tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut konseling
Menurut Schertzer dan Stone (1980) Konseling adalah upaya membantu individu
melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar
konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan
menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa
bahagia dan efektif perilakunya.
Sedangkan
psikoterapi menurut Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001),
mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen
terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom
untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan
dan perkembangan pribadi yang positif.
Dari dua definisi di atas kita bisa tarik
kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada
interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta
komunikasi non verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan
semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta
mampu membuat keputusan yang tepat dan juga nantinya konseli dapat menentukan
tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.
Sedangkan
psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya emosional
dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga
lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu
dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian ke arah yang positif.
Perbedaan
konseling dan psikoterapi didefinisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson
(1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:
KONSELING
|
PSIKOTERAPI
|
1. Klien
|
1. Pasien
|
2. Gangguan yang kurang serius
|
2. Gangguan yang serius
|
3. Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
|
3. Masalah kepribadian dan pengambilan
keputusan
|
4. Berhubungan dengan pencegahan
|
4. Berhubungan dengan penyembuhan
|
5. Lingkungan pendidikan dan non medis
|
5. Lingkungan medis
|
6. Berhubungan dengan kesadaran
|
6. Berhubungan dengan ketidaksadaran
|
7. Metode pendidikan
|
7. Metode penyembuhan
|
4. Jelaskan
beserta contohnya bentuk dari terapi !
a. Supportif
Suatu terapi yang tidak merawat atau memperbaiki kondisi yang mendasarinya, melainkan meningkatkan kenyamanan pasien.
Penyembuhan Supportif (Supportive Therapy): Merupakan perawatan dalam psikoterapi yang mempunyai tujuan untuk :
- Memperkuat benteng pertahanan (harga diri atau kepribadian)
- Memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi atau kepribadian
- Pengembalian pada penyesuaian diri yang seimbang.
Penyembuhan supportif ini dapat menggunakan beberapa metode dan teknik pendekatan, diantaranya :
- Bimbingan (Guidance)
- Mengubah lingkungan (Environmental Manipulation)
- Pengutaraan dan penyaluran arah minat
- Tekanan dan pemaksaan
- Penebalan perasaan (Desensitization)
- Penyaluran emosional
- Sugesti
· Penyembuhan inspirasi berkelompok (Inspirational Group Therapy)
b. Penyembuhan Reedukatif (Reeducative Therapy)
Suatu
metode penyembuhan yang bertujuan untuk mengusahakan penyesuaian
kembali, perubahan atau modifikasi sasaran/tujuan hidup, dan untuk
menghidupkan kembali potensi. Adapun metode yang dapat digunakan antara
lain :
- Penyembuhan sikap (attitude therapy)
- Wawancara (interview psychtherapy)
- Penyembuhan terarah (directive therapy)
- Psikodrama
c. Penyembuhan Rekonstruktif (Reconstructive Therapy)
Penyembuhan
rekonstruktif mempunyai tujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap
konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan
untuk perluasan pertunbuhan kepribadian dengan mengembangkan potensi.
Metode dan teknik pendekatannya antara lain :
- Psikoanalisis
- Pendekatan transaksional (transactional therapy)
- Penyembuhan analitik berkelompok