1. Sejarah
Kesehatan Mental
Sejak zaman dahulu sikap terhadap
gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme. Beratus-ratus
tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah
syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita
penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum
dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun
ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi
orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan
William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam
mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa
Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya
usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang
dikemukakan. Di zaman era ilmiah perubahan sangat berarti dalam sikap dan cara
pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme dan tradisional ke sikap dan
cara rasional, terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri
di Amerika. Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis
yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan.
Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di
Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha
kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para
penderita penyakit mental dan orang-orang gila dan memperbaiki banyak rumah
sakit jiwa di Amerika dan Eropa. Selanjutnya, perkembangan psikologi abnormal
dan psikiatri memberikan pengaruh pada lahirnya mental hygiene, yang berkembang
menjadi suatu “body of knowledge”. Secara hukum, gerakan mental hygiene ini
mendapat pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika
Serikat menandatangani “the National
Mental Health Acl”. Dokumen ini merupakan blueprint yang komprehensif ,
yang berisi program-program jangka panjang yang di arahkan untuk meningkatkan
kesehatan mental seluruh warga masyarakat. Beberapa tujuan yang terkandung
dalam dokumen tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Meningkatkan
kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian,
investigasi, eksperimen, penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan pengobatan.
b.
Membantu
lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian, dan
meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan dan mengaplikasikan
hasil-hasil penelitiannya.
c.
Memberikan
latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental.
d.
Mengembangkan
dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan
pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.
2.Konsep
Sehat
Sebelum mengetahui konsep sehat perlu diketahui apa
itu sehat?
Definisi Sehat
Sehat (Health) secara umum dapat
dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara
fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan
lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat
adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan
setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. World
Health Organization (WHO), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi
dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat
kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja
secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya dan
memiliki 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan
sosial budaya.Ada 3 komponen penting dalam definisisehat yaitu
a.
sehat
jasmani,
b.
sehat
mental (pikiran, emosional dan spiritual)
c.
sehat
sosial. Sehat sosial mencakup status sosial, kesejahteraan ekonomi dan saling
toleransi dan menghargai.
Di sisi lain,
ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan antara lain:
1.
Environment atau lingkungan.
2. Behaviour
atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological
balance.
3. Heredity atau
keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
4. Health care
service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif,
dan rehabilitatif.
Jadi, konsep sehat merupakan suatu
keadaan dimana seseorang dikatakan normal dan sesuai dengan kaidah dan standart
yang di terima dalam suatu komunitas atau masyarakyat, dan mempunyai suatu
keadaan dimana fisik mental dan sosialnya tidak tergangu dan dapat melalukan
perannya sebagai anggota dalam suatu komunitas atau masyarakat. Berbiacara
mengenai konsep sehat, harus mempunyai tujuan &ruang lingkup secara khusus yang
meliputi usaha-usaha perbaikan atau pengendalian terhadap lingkungan hidup
manusia, yang di antaranya berupa:
1.
Menyediakan
air bersih yang cukup dan memenuhi persyaratan kesehatan.
2.
Makanan
dan minuman yang diproduksi dalam skala besar dan dikonsumsi secara luas oleh
masyarakat.
3.
Pencemaran
udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan, dan gas beracun
yang berbahaya bagi kesehatan dan makhluk hidup lain dan menjadi penyebab
terjadinya perubahan ekosistem.
4.
Limbah
cair dan padat yang berasal dari rumah tangga, pertanian, peternakan, industri,
rumah sakit, dan lain-lain.
5.
Kontrol terhadap arthropoda dan rodent yang
menjadi vektor penyakit dan cara memutuskan rantai penularan penyakitnya.
6.
Perumahan
dan bangunan yang layak huni dan memenuhi syarat kesehatan.
7.
Kebisingan,
radiasi, dan kesehatan kerja.
8.
Survei
sanitasi untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program kesehatan
lingkungan
Tujuan Pembangunan Kesehatan
1.
Untuk
jangka panjang pembangunan bidang kesehatan diarahkan untuk tercapainya tujuan
utama.
2.
Peningkatan
kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan.
3.
Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat
menjamin kesehatan.
4.
Peningkatan
status gizi masyarakat.
5.
Pengurangan
kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
6.
Pengembangan
keluarga sehat sejahtera, dengan makin diterimanya norma keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera.
3. Perbedaan
kesehatan mental konsep barat & konsep timur
Dalam kesehatan mental, faktor
kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat
atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984).
Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963)
meliputi :
a.
Kebudayaan
yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
b.
Kebudayaan
memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
c.
Berbagai
bentuk gangguan mental karena faktor kultural.
d.
Upaya
peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.
Selain itu budaya juga mempengaruhi
tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Dengan
kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami
dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya
tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya
tertentu.
Ada perbedaan konsep kesehatan mental
budaya barat dan timur Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu
mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi
medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih
secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan
terhadap penyakit.
-
Model-model
Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena
banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat
dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang
disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
a.
Model
Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang
nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian
tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh,
baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan
oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat
tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objel yang perlu diatur
dan dikontrol.
b.
Model
Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini
masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan
penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi
abnormalitas.
c.
Model
Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya
ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada
penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau
sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh
simtom-simtom somatik.
DAFTAR PUSTAKA
Siswanto. 2007. Kesehatan
Mental “ Konsep, Cakupan dan Perkembangan”. Yogyakarta. Penerbit Andi.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Yusuf, Syamsu. 2004. Mental Hygiene. Bandung:Pustaka Bani Quraisy.