4. HUBUNGAN ANTARA PELAKSANAAN KERJA DAN KEPUASAN KERJA
Hubungan antara
pelaksanaan kerja dan kepuasan kerja karyawan
masih menjadi perdebatan/controversy baik di dunia akademik maupun dunia
kerja. Sebagian berpendapat bahwa kepuasan kerja menimbulkan produktivitas dan
sebaliknya ada yang beranggapan bahwa produktivitas menimbulkan kepuasan kerja.
Handoko (1995) mengibaratkan kontroversi ini seperti kasus antara telur dengan
ayam, mana yang muncul lebih dahulu. Hubungan antara pelaksanaan kerja dan kepuasan kerja adalah suatu sistem yang berlanjut/continuous.
Terlepas dari pendapat tersebut, kepuasan kerja memiliki peran/arti penting
baik bagi karyawan maupun organisasi karena dianggap dapat menciptakan kondisi
yang positip dalam lingkungan kerja.
Secara umum
karyawan yang puas cenderung akan lebih produktif daripada mereka yang
tidak/kurang puas. Dalam berbagai literatur maupun penelitian memberikan
petunjuk bahwa terdapat hubungan antara kepuasan kerja dan produktivitas kerja
karyawan, sehingga pihak menajemen organisasi/perusahaan berusaha untuk
memahami berbagai faktor yang menimbulkan adanya kepuasan kerja. Meskipun
hubungan kepuasan kerja dan produktivitas tidak selalu konsisten, tetapi
masalah ini tetap perlu mendapatkan perhatian dari organisasi.
Menurut Robbins
(1996) pandangan mengenai hubungan antara
pelaksanaan kerja dan kepuasan kerja didasarkan pada suatu asumsi bahwa karyawan yang merasa
dirinya bahagia adalah karyawan yang produktif. Asumsi ini sulit dibuktikan di
lapangan, karena banyak karyawan yang tidak puas tetapi mereka tetap produktif,
misalnya saja karyawan-karyawan yang bekerjanya dikendalikan oleh mesin-mesin.
Apabila ada hubungan antara kepuasan kerja dan produktivitas korelasinya
relatif kecil , dan hubungan itu lebih kuat apabila perilaku karyawan tidak
dikendalikan oleh faktor-faktor dari luar. Korelasi kepuasan kerja dengan produktivitas
lebih akurat bagi karyawan yang memiliki posisi lebih tinggi seperti posisi
profesional, manager atau supervisor.
Hubungan antara
pelaksanaan dan kepuasan kerja juga belum mendapatkan dukungan yang kuat.
Sekitar 20 hasil studi mengenai hubungan antara prestasi dan kepuasan kerja,
masih menemukan korelasi yang lemah. Karyawan yang puas tidak selalu
menghasilkan produktivitas yang lebih baik. Kebijaksanaan manager untuk
meningkatkan kepuasan tidak selalu menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi.
Jadi adanya asumsi bahwa karyawan yang memiliki prestasi kerja yang tinggi
adalah mereka yang terpuaskan tidak didukung dalam riset ini. Hal ini
menunjukkan bahwa hubungan antara kepuasan dan produktivitas kerja dan
sebaliknya, belum mendapat dukungan yang kuat. Ada tiga pandangan mengenai
hubungan antara kepuasan kerja dengan produktivitas: (1) kepuasan menyebabkan
produktivitas; (2) kepuasan kerja disebabkan oleh produktivitas; dan (3) tidak
ada hubungan antar kepuasan dengan produktivitas kerja (Gibson, Ivancevich, dan
Donnelly, 1996).
Salah satu
hasil penelitian Wicaksono yang dikutip oleh As’ad (2000), menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang positip dan signifikan antara pelaksanaan kerja dengan kepuasan kerja. Hal ini menunjukkan
bahwa, secara umum kepuasan memiliki hubungan dengan produktivitas kerja
karyawan. Menurut Mathis dan Jackson (2001) pengaruh kepuasan terhadap komitmen
organisasi akan berdampak pada produktivitas, kualitas, dan pelayanan. Bagi
manajemen organisasi tetap penting untuk mengusahakan hubungan yang positip
antara kepuasan dengan produktivitas kerja, meskipun hal ini tidak mudah
(Siagian, 1997). Menurut Robbins (1996) apabila data kepuasan dan produktivitas
semua organisasi dikumpulkan secara keseluruhan, menunjukkan bahwa organisasi
dengan karyawan yang terpuaskan lebih efektif daripada organisasi dengan
karyawan yang kurang terpuaskan. Untuk itu penelitian/studi lebih lanjut sangat
dianjurkan untuk menganalisis hubungan antara kepuasan dengan produktivitas
kerja.
5. MENCEGAH DAN MENGATASI KETIDAKPUASAN KERJA
Upaya mengatasi ketidakpuasan kerja
secara umum oleh para individu karyawan dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi apa saja, kapan
dan dimana ketidakpuasan kerja itu terjadi; bisa saja dalam waktu-waktu dan
lokasi kerja tertentu dapat menyebabkan timbulnya ketidakpuasan kerja, mengidentifikasi
faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakpuasan kerja dan apa akibatnya
terhadap kondisi fisik, psikis, mutu proses dan kinerja,
2.Kalau faktor penyebabnya lebih
pada diri sendiri maka yang harus dilakukan adalah;
a.Mengkondisikan dirinya untuk
memandang bekerja itu adalah ibadah, aktualisasi diri, dan menyenangi
pekerjaannya;
b.Memelajari dan mengambil teladan yang baik dari mitra kerjanya yang mampu mengatasi ketidakpusan kerja;
c.Menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja;
d.Meningkatkan relasi sosial horisontal dan vertikal di tempat kerjanya;
e.Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan;
f.Mendiskusikan kondisi dan masalah ketidakpuasan dengan pihak manajer dan kalau memungkinkan dengan manajemen puncak.
b.Memelajari dan mengambil teladan yang baik dari mitra kerjanya yang mampu mengatasi ketidakpusan kerja;
c.Menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja;
d.Meningkatkan relasi sosial horisontal dan vertikal di tempat kerjanya;
e.Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan;
f.Mendiskusikan kondisi dan masalah ketidakpuasan dengan pihak manajer dan kalau memungkinkan dengan manajemen puncak.
3.Sementara itu untuk kepentingan
organisasi, maka yang dapat dilakukan pihak manajemen adalah sebagai berikut:
Seperti halnya di tingkat individu karyawan maka pihak manajemen juga perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang berkait dengan ketidakpuasan kerja karyawannya,setelah mengetahui penyebab ketidakpuasan kerja maka beberapa hal yang dapat dilakukan pihak manajemen adalah:
1)Membuat lingkungan kerja yang
nyaman dan tidak membosankan; untuk itu diperlukan penyegaran karyawan dalam
bentuk peningkatan sumberdaya manusia, penyempurnaan lingkungan fisik, dan
keeratan hubungan sosial baik dengan karyawan lain maupun dengan pimpinan;
2)Memberi pengakuan tentang
keberadaan karyawan dengan mendorong dan melibatkan karyawan dalam menyusun
rencana dan evaluasi kerja sesuai dengan kemampuannya;
3)Memerkecil kejenuhan kerja karena
terlalu lama bekerja di tempat atau posisi tertentu dengan melakukan perputaran
karyawan secara regular misalnya rotasi dan mutasi
4)Menempatkan karyawan dalam posisi
tertentu sesuai dengan latar belakang kompetensi dan minatnya;
5)Menerapkan sistem manajemen
kinerja, kompensasi, dan karir secara adil dan transparan;
6)Menyediakan unit bimbingan dan
konseling untuk para karyawan khususnya yang memiliki ketidakpuasan kerja
dengan tujuan meningkatkan motivasi kerja mereka.
Bentuk-bentuk upaya mengatasi
ketidakpuasan kerja oleh karyawan dan manajemen tentunya sangat bervariasi
sesuai dengan faktor penyebabnya. Dengan kata lain upayanya harus spesifik.
Namun kalau untuk semua karyawan maka pihak manajemen perlu membuat kebijakan
yang menekankan pencegahan agar ekonomis efisien ketimbang tindakan yang
bersifat kuratif dan bakal mahal.
DAFTAR PUSTAKA :
- Robbins, Stepen P. (1996), Perilaku Organisasi: Konsep-Kontroversi-Aplikasi, Jilid I, Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Prenhallindo.
- Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar